Kamis, 03 Maret 2011

Enam agama utama di Indonesia

Enam agama utama di Indonesia

Berdasarkan Penjelasan Atas Penetapan Presiden No 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama pasal 1, "Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khong Hu Cu (Confusius)".[14]

[sunting] Islam

Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh, Indonesia.
Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, dengan 85% dari jumlah penduduk adalah penganut ajaran Islam.[15] Mayoritas Muslim dapat dijumpai di wilayah barat Indonesia seperti di Jawa dan Sumatera. Sedangkan di wilayah timur Indonesia, persentase penganutnya tidak sebesar di kawasan barat. [16] Sekitar 98% Muslim di Indonesia adalah penganut aliran Sunni. [17] Sisanya, sekitar dua juta pengikut adalah Syiah (di atas satu persen), berada di Aceh.[17]
Sejarah Islam di Indonesia sangatlah kompleks dan mencerminkan keanekaragaman dan kesempurnaan tersebut kedalam kultur.[16] Pada abad ke-12, sebagian besar pedagang orang Islam dari India tiba di pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Hindu yang dominan beserta kerajaan Buddha, seperti Majapahit dan Sriwijaya, mengalami kemunduran, dimana banyak pengikutnya berpindah agama ke Islam. Dalam jumlah yang lebih kecil, banyak penganut Hindu yang berpindah ke Bali, sebagian Jawa dan Sumatera. [16] Dalam beberapa kasus, ajaran Islam di Indonesia dipraktikkan dalam bentuk yang berbeda jika dibandingkan dengan Islam daerah Timur Tengah.
Ada pula sekelompok pemeluk Ahmadiyah yang kehadirannya belakangan ini sering dipertanyakan. Aliran ini telah hadir di Indonesia sejak 1925. Pada 9 Juni 2008, pemerintah Indonesia mengeluarkan sebuah surat keputusan yang praktis melarang Ahmadiyah melakukan aktivitasnya ke luar. Dalam surat keputusan itu dinyatakan bahwa Ahmadiyah dilarang menyebarkan ajarannya.[18]

[sunting] Kristen Protestan

Kristen Protestan berkembang di Indonesia selama masa kolonial Belanda (VOC), pada sekitar abad ke-16. Kebijakan VOC yang mereformasi Katolik dengan sukses berhasil meningkatkan jumlah penganut paham Protestan di Indonesia.[19]Agama ini berkembang dengan sangat pesat di abad ke-20, yang ditandai oleh kedatangan para misionaris dari Eropa ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti di wilayah barat Papua dan lebih sedikit di kepulauan Sunda.[20] Pada 1965, ketika terjadi perebutan kekuasaan, orang-orang tidak beragama dianggap sebagai orang-orang yang tidak ber-Tuhan, dan karenanya tidak mendapatkan hak-haknya yang penuh sebagai warganegara.[20] Sebagai hasilnya, gereja Protestan mengalami suatu pertumbuhan anggota.
Protestan membentuk suatu perkumpulan minoritas penting di beberapa wilayah. Sebagai contoh, di pulau Sulawesi, 97% penduduknya adalah Protestan, terutama di Tana Toraja, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. Sekitar 75% penduduk di Tana Toraja adalah Protestan. dibeberapa wilayah, keseluruhan desa atau kampung memiliki sebutan berbeda terhadap aliran Protestan ini, tergantung pada keberhasilan aktivitas para misionaris.[21]
Di Indonesia, terdapat dua provinsi yang mayoritas penduduknya adalah Protestan, yaitu Papua,dan Sulawesi Utara dengan 90% - 94% dari jumlah penduduk. Di Papua, ajaran Protestan telah dipraktikkan secara baik oleh penduduk asli. Di Sulawesi Utara, kaum Minahasa, berpindah agama ke Protestan pada sekitar abad ke-18. [22] Saat ini, kebanyakan dari penduduk asli Sulawesi Utara menjalankan beberapa aliran Protestan. Selain itu, para transmigran dari pulau Jawa dan Madura yang beragama Islam juga mulai berdatangan. Sepuluh persen lebih-kurang; dari jumlah penduduk Indonesia adalah penganut Kristen Protestan.

[sunting] Hindu

Seorang perempuan Hindu Bali sedang menempatkan sesajian di tempat suci keluarganya
Kebudayaan dan agama Hindu tiba di Indonesia pada abad pertama Masehi, bersamaan waktunya dengan kedatangan agama Buddha,[23] yang kemudian menghasilkan sejumlah kerajaan Hindu-Buddha seperti Kutai, Mataram dan Majapahit. Candi Prambanan adalah kuil Hindu yang dibangun semasa kerajaan Majapahit, semasa dinasti Sanjaya. Kerajaan ini hidup hingga abad ke 16 M, ketika kerajaan Islam mulai berkembang. Periode ini, dikenal sebagai periode Hindu-Indonesia, bertahan selama 16 abad penuh.[24]
Hindu di Indonesia berbeda dengan Hindu lainnya di dunia.[25]Sebagai contoh, Hindu di Indonesia, secara formal ditunjuk sebagai agama Hindu Dharma, tidak pernah menerapkan sistem kasta. Contoh lain adalah, bahwa Epos keagamaan Hindu Mahabharata (Pertempuran Besar Keturunan Bharata) dan Ramayana (Perjalanan Rama), menjadi tradisi penting para pengikut Hindu di Indonesia, yang dinyatakan dalam bentuk wayang dan pertunjukan tari. Aliran Hindu juga telah terbentuk dengan cara yang berbeda di daerah pulau Jawa, yang jadilah lebih dipengaruhi oleh versi Islam mereka sendiri, yang dikenal sebagai Islam Abangan atau Islam Kejawen. [26]
Semua praktisi agama Hindu Dharma berbagi kepercayaan dengan banyak orang umum, kebanyakan adalah Lima Filosofi: Panca Srada. [27] Ini meliputi kepercayaan satu Yang Maha Kuasa Tuhan, kepercayaan didalam jiwa dan semangat, serta karma atau kepercayaan akan hukuman tindakan timbal balik. Dibanding kepercayaan atas siklus kelahiran kembali dan reinkarnasi, Hindu di Indonesia lebih terkait dengan banyak sekali yang berasal dari nenek moyang roh. Sebagai tambahan, agama Hindu disini lebih memusatkan pada seni dan upacara agama dibanding kitab, hukum dan kepercayaan. [25]
Menurut catatan, jumlah penganut Hindu di Indonesia pada tahun 2006 adalah 6,5 juta orang), [28] sekitar 1,8% dari jumlah penduduk Indonesia, merupakan nomor empat terbesar. Namun jumlah ini diperdebatkan oleh perwakilan Hindu Indonesia, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). PHDI memberi suatu perkiraan bahwa ada 18 juta orang penganut Hindu di Indonesia. [29] Sekitar 93 % penganut Hindu berada di Bali. Selain Bali juga terdapat di Sumatera, Jawa, Lombok, dan pulau Kalimantan yang juga memiliki populasi Hindu cukup besar, yaitu di Kalimantan Tengah, sekitar 15,8 % (sebagian besarnya adalah Hindu Kaharingan, agama lokal Kalimantan yang digabungkan ke dalam agama Hindu).

[sunting] Buddha

Bhikku Buddha melakukan ritual keagamaan mereka di Borobudur
Buddha merupakan agama tertua kedua di Indonesia, tiba pada sekitar abad keenam masehi. [30]Sejarah Buddha di Indonesia berhubungan erat dengan sejarah Hindu, sejumlah kerajaan Buddha telah dibangun sekitar periode yang sama. Seperti kerajaan Sailendra, Sriwijaya dan Mataram. Kedatangan agama Buddha telah dimulai dengan aktivitas perdagangan yang mulai pada awal abad pertama melalui Jalur Sutra antara India dan Indonesia. [31] Sejumlah warisan dapat ditemukan di Indonesia, mencakup candi Borobudur di Magelang dan patung atau prasasti dari sejarah Kerajaan Buddha yang lebih awal.
Mengikuti kejatuhan Soekarno pada pertengahan tahun 1960-an, dalam Pancasila ditekankan lagi pengakuan akan satu Tuhan (monoteisme). [32] Sebagai hasilnya, pendiri Perbuddhi (Persatuan Buddha Indonesia), Bhikku Ashin Jinarakkhita, mengusulkan bahwa ada satu dewata tertinggi, Sang Hyang Adi Buddha. Hal ini didukung dengan sejarah di belakang versi Buddha Indonesia di masa lampau menurut teks Jawa kuno dan bentuk candi Borobudur.
Menurut sensus nasional tahun 1990, lebih dari 1% dari total penduduk Indonesia beragama Buddha, sekitar 1,8 juta orang. [30] Kebanyakan penganut agama Buddha berada di Jakarta, walaupun ada juga di lain provinsi seperti Riau, Sumatra Utara dan Kalimantan Barat. Namun, jumlah ini mungkin terlalu tinggi, mengingat agama Konghucu dan Taoisme tidak dianggap sebagai agama resmi di Indonesia, sehingga dalam sensus diri mereka dianggap sebagai penganut agama Buddha. [30]

[sunting] Kristen Katolik

Katedral di Jakarta

[sunting] Umat Katolik Perintis di Indonesia: 645 - 1500

Agama Katolik untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ketujuh di Sumatera Utara. Fakta ini ditegaskan kembali oleh (Alm) Prof. Dr. Sucipto Wirjosuprapto. Untuk mengerti fakta ini perlulah penelitian dan rentetan berita dan kesaksian yang tersebar dalam jangka waktu dan tempat yang lebih luas. Berita tersebut dapat dibaca dalam sejarah kuno karangan seorang ahli sejarah Shaykh Abu Salih al-Armini yang menulis buku "Daftar berita-berita tentang Gereja-gereja dan pertapaan dari provinsi Mesir dan tanah-tanah di luarnya". yang memuat berita tentang 707 gereja dan 181 pertapaan Serani yang tersebar di Mesir, Nubia, Abbessinia, Afrika Barat, Spanyol, Arabia, India dan Indonesia.
Dengan terus dilakukan penyelidikan berita dari Abu Salih al-Armini kita dapat mengambil kesimpulan kota Barus yang dahulu disebut Pancur dan saat ini terletak di dalam Keuskupan Sibolga di Sumatera Utara adalah tempat kediaman umat Katolik tertua di Indonesia. Di Barus juga telah berdiri sebuah Gereja dengan nama Gereja Bunda Perawan Murni Maria (Gereja Katolik Indonesia seri 1, diterbitkan oleh KWI)

[sunting] Awal mula: abad ke-14 sampai abad ke-18

Dan selanjutnya abad ke-14 dan ke-15 entah sebagai kelanjutan umat di Barus atau bukan ternyata ada kesaksian bahwa abad ke-14 dan ke-15 telah ada umat Katolik di Sumatera Selatan.
Kristen Katolik tiba di Indonesia saat kedatangan bangsa Portugis, yang kemudian diikuti bangsa Spanyol yang berdagang rempah-rempah. [20]
Banyak orang Portugis yang memiliki tujuan untuk menyebarkan agama Katolik Roma di Indonesia, dimulai dari kepulauan Maluku pada tahun 1534. Antara tahun 1546 dan 1547, pelopor misionaris Kristen, Fransiskus Xaverius, mengunjungi pulau itu dan membaptiskan beberapa ribu penduduk setempat. [33]
Pada abad ke-16, Portugis dan Spanyol mulai memperluas pengaruhnya di Manado & Minahasa, salah satunya adalah menyebarkan agama Kristen Katolik namun hal tersebut tidak bertahan lama sejak VOC berhasil mengusir Spanyol & Portugis dari Sulawesi Utara. VOC pun mulai menguasai Sulawesi Utara, untuk melindungi kedudukannya di Maluku.
Selama masa VOC, banyak praktisi paham Katolik Roma yang jatuh, dalam hal kaitan kebijakan VOC yang mengkritisi agama itu. Yang paling tampak adalah di Sulawesi Utara, Flores dan Timor Timur.
Pada tahun 2006, 3% dari penduduk Indonesia adalah Katolik, lebih kecil dibandingkan para penganut Protestan. Mereka kebanyakan tinggal di Papua dan Flores.

[sunting] Khonghucu

Agama Konghucu berasal dari Cina daratan dan yang dibawa oleh para pedagang Tionghoa dan imigran. Diperkirakan pada abad ketiga Masehi, orang Tionghoa tiba di kepulauan Nusantara.[4] Berbeda dengan agama yang lain, Konghucu lebih menitikberatkan pada kepercayaan dan praktik yang individual, lepas daripada kode etik melakukannya, bukannya suatu agama masyarakat yang terorganisir dengan baik, atau jalan hidup atau pergerakan sosial. Di era 1900-an, pemeluk Konghucu membentuk suatu organisasi, disebut Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) di Batavia (sekarang Jakarta).
Setelah kemerdekaan Indonesia di tahun 1945, umat Konghucu di Indonesia terikut oleh beberapa huru-hara politis dan telah digunakan untuk beberapa kepentingan politis. Pada 1965, Soekarno mengeluarkan sebuah keputusan presiden No. 1/Pn.Ps/1965 1/Pn.Ps/1965, di mana agama resmi di Indonesia menjadi enam, termasuklah Konghucu. [4] Pada awal tahun 1961, Asosiasi Khung Chiao Hui Indonesia (PKCHI), suatu organisasi Konghucu, mengumumkan bahwa aliran Konghucu merupakan suatu agama dan Confucius adalah nabi mereka.
Tahun 1967, Soekarno digantikan oleh Soeharto, menandai era Orde Baru. Di bawah pemerintahan Soeharto, perundang-undangan anti Tiongkok telah diberlakukan demi keuntungan dukungan politik dari orang-orang, terutama setelah kejatuhan PKI, yang diklaim telah didukung oleh Tiongkok.[4] Soeharto mengeluarkan instruksi presiden No. 14/1967, mengenai kultur Tionghoa, peribadatan, perayaan Tionghoa, serta menghimbau orang Tionghoa untuk mengubah nama asli mereka. Bagaimanapun, Soeharto mengetahui bagaimana cara mengendalikan Tionghoa Indonesia, masyarakat yang hanya 3% dari populasi penduduk Indonesia, tetapi memiliki pengaruh dominan di sektor perekonomian Indonesia. [34] Di tahun yang sama, Soeharto menyatakan bahwa “Konghucu berhak mendapatkan suatu tempat pantas di dalam negeri” di depan konferensi PKCHI.[4]
Pada tahun 1969, UU No. 5/1969 dikeluarkan, menggantikan keputusan presiden tahun 1967 mengenai enam agama resmi. Namun, hal ini berbeda dalam praktiknya. Pada 1978, Menteri Dalam Negeri mengeluarkan keputusan bahwa hanya ada lima agama resmi, tidak termasuk Konghucu.[4] Pada tanggal 27 Januari 1979, dalam suatu pertemuan kabinet, dengan kuat memutuskan bahwa Konghucu bukanlah suatu agama. Keputusan Menteri Dalam Negeri telah dikeluarkan pada tahun 1990 yang menegaskan bahwa hanya ada lima agama resmi di Indonesia.
Karenanya, status Konghucu di Indonesia pada era Orde Baru tidak pernah jelas. De jure, berlawanan hukum, di lain pihak hukum yang lebih tinggi mengizinkan Konghucu, tetapi hukum yang lebih rendah tidak mengakuinya. De facto, Konghucu tidak diakui oleh pemerintah dan pengikutnya wajib menjadi agama lain (biasanya Kristen atau Buddha) untuk menjaga kewarganegaraan mereka. Praktik ini telah diterapkan di banyak sektor, termasuk dalam kartu tanda penduduk, pendaftaran perkawinan, dan bahkan dalam pendidikan kewarga negaraan di Indonesia yang hanya mengenalkan lima agama resmi. [4]
Setelah reformasi Indonesia tahun 1998, ketika kejatuhan Soeharto, Abdurrahman Wahid dipilih menjadi presiden yang keempat. Wahid mencabut instruksi presiden No. 14/1967 dan keputusan Menteri Dalam Negeri tahun 1978. Agama Konghucu kini secara resmi dianggap sebagai agama di Indonesia. Kultur Tionghoa dan semua yang terkait dengan aktivitas Tionghoa kini diizinkan untuk dipraktekkan. Warga Tionghoa Indonesia dan pemeluk Konghucu kini dibebaskan untuk melaksanakan ajaran dan tradisi mereka.

[sunting] Agama dan kepercayaan lainnya

Beberapa agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia:

[sunting] Yahudi

Terdapat komunitas kecil Yahudi yang tidak diakui di Jakarta dan Surabaya. Pendirian Yahudi awal di kepulauan ini berasal dari Yahudi Belanda yang datang untuk berdagang rempah. Pada tahun 1850-an, sekitar 20 keluarga Yahudi dari Belanda dan Jerman tinggal di Jakarta (waktu itu disebut Batavia). Beberapa tinggal di Semarang dan Surabaya. Beberapa Yahudi Baghdadi juga tinggal di pulau ini. Pada tahun 1945, terdapat sekitar 2.000 Yahudi Belanda di Indonesia. Pada tahun 1957, dilaporkan masih ada sekitar 450 orang Yahudi, terutama Ashkenazim di Jakarta dan Sephardim di Surabaya. Komunitas ini berkurang menjadi 50 pada tahun 1963. Pada tahun 1997, hanya terdapat 20 orang Yahudi, beberapa berada di Jakarta dan sedikit keluarga Baghdadi di Surabaya.[35]
Yahudi di Surabaya memiliki sinagoga. Mereka hanya sedikit hubungan dengan Yahudi di luar Indonesia. Tidak ada pelayanan yang diberikan pada sinagoga.[36] Sinagoga ini telah ditutup oleh kelompok Muslim ekstremis yang menentang Perang Gaza 2008-2009.[37] Satu-satunya sinagoga yang masih tersisa terletak di luar kota Manado, yang hanya dihadiri oleh sekitar 10 orang saja.[37]

[sunting] Baha'i

Di Indonesia hadir sejumlah pemeluk agama Baha'i. Berapa jumlah mereka sebenarnya tidak diketahui dengan pasti karena seringkali mereka mengalami tekanan dan penolakan dari masyarakat sekitarnya.[38] Salah satu penganut agama Baha'i yang diketahui secara terbatas adalah belasan penganut di sebuah wilayah di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

[sunting] Kristen Ortodoks

Meskipun Kristen Ortodoks sudah hadir di Indonesia melalui kaum Non-Kalsedon di Sumatera pada abad ke-7, baru pada abad ke-20 Gereja ini hadir dengan resmi. Ada dua kelompok Ortodoks di Indonesia, yaitu Gereja Ortodoks Yunani,[39] dan Gereja Ortodoks Siria yang berkiblat ke Antiokhia.[40]

[sunting] Hubungan antar agama

Walaupun pemerintah Indonesia mengenali sejumlah agama berbeda, konflik antar agama kadang-kadang tidak terelakkan. Di masa Orde Baru, Soeharto mengeluarkan perundang-undangan yang oleh beberapa kalangan dirasa sebagai anti Tionghoa. Presiden Soeharto mencoba membatasi apapun yang berhubungan dengan budaya Tionghoa, mencakup nama dan agama. [41] Sebagai hasilnya, Buddha dan Khonghucu telah diasingkan.
Antara 1966 dan 1998, Soeharto berikhtiar untuk de-Islamisasi pemerintahan, dengan memberikan proporsi lebih besar terhadap orang-orang Kristen di dalam kabinet.[42] Namun pada awal 1990-an, isu Islamisasi yang muncul, dan militer terbelah menjadi dua kelompok, nasionalis dan Islam.[42] Golongan Islam, yang dipimpin oleh Jenderal Prabowo, berpihak pada Islamisasi, sedangkan Jenderal Wiranto dari golongan nasionalis, berpegang pada negara sekuler.
Semasa era Soeharto, program transmigrasi di Indonesia dilanjutkan, setelah diaktifkan oleh pemerintahan Hindia Belanda pada awal abad ke-19. Maksud program ini adalah untuk memindahkan penduduk dari daerah padat seperti pulau Jawa, Bali dan Madura ke daerah yang lebih sedikit penduduknya, seperti Ambon, kepulauan Sunda dan Papua. Kebijakan ini mendapatkan banyak kritik, dianggap sebagai kolonisasi oleh orang-orang Jawa dan Madura, yang membawa agama Islam ke daerah non-Muslim.[6] Penduduk di wilayah barat Indonesia kebanyakan adalah orang Islam dengan Kristen merupakan minoritas kecil, sedangkan daerah timur, populasi Kristen adalah sama atau bahkan lebih besar dibanding populasi orang Islam. Hal ini bahkan telah menjadi pendorong utama terjadinya konflik antar agama dan ras di wilayah timur Indonesia, seperti kasus Poso di tahun 2005.
Pemerintah telah berniat untuk mengurangi konflik atau ketegangan tersebut dengan pengusulan kerjasama antar agama. [43] Kementerian Luar Negeri, bersama dengan organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, yang dipegang oleh Sarjana Islam Internasional, memperkenalkan ajaran Islam moderat, yang mana dipercaya akan mengurangi ketegangan tersebut.[43] Pada 6 Desember 2004, dibuka konferensi antar agama yang bertema “Dialog Kooperasi Antar Agama: Masyarakat Yang Membangun dan Keselarasan”. Negara-negara yang hadir di dalam konferensi itu ialah negara-negara anggota ASEAN, Australia, Timor Timur, Selandia Baru dan Papua Nugini, yang dimaksudkan untuk mendiskusikan kemungkinan kerjasama antar kelompok agama berbeda di dalam meminimalkan konflik antar agama di Indonesia. [43] Pemerintah Australia, yang diwakili oleh menteri luar negerinya, Alexander Downer, sangat mendukung konferensi tersebut.

[sunting] Animisme

Kepercayaan terhadap benda mati (animisme) di Indonesia sama dengan penyembah benda mati di dunia lainnya, yang mana, suatu kepercayaan terhadap objek tertentu, seperti pohon, batu atau orang-orang. Kepercayaan ini telah ada dalam sejarah Indonesia yang paling awal, di sekitar pada abad pertama, tepat sebelum Hindu tiba Indonesia. [44] Lagipula, dua ribu tahun kemudian, dengan keberadaan Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu dan agama lainnya, penyembah benda mati masih tersisa di beberapa wilayah di Indonesia. Bagaimanapun, kepercayaan ini tidak diterima sebagai agama resmi di Indonesia, sebagaimana dinyatakan didalam Pancasila bahwa ke

Senin, 28 Februari 2011

suka dipenjara


                                   SUKA DIPENJARA                                                                                                                                                                                                                                     
Perempuan pembantu dituduh pengemis lalu dijebloskan ke sel panti Kedoya
 



          Dizaman yang modern kini.Masih ada orang yang milih dipenjara lho ! terjadi di Negara Amrik,diflorida.Suatu hari nenek.
yang berusia 66 tahun yang bernama “Keyza liana Tiawaina” itu pergi ke Restoran waffle House.ketika itu ia memesan Sandwinch dan secangkir kopi lalu ketika dikasih pelayan Bon yang harus dibayar nenek tersebut tidak mau membayarnya .
           Pemilik langsung melaporkan nenek tersebut kepada Polisi.Dikantor polisi nenek tersebut memilih dipenjara dari pada membayar kopi dan sandwich yang dipesannya.
           Dan akhirnya nenek tersebut masuk penjara dengan tuduhan masuk restoran dengan maksud menipu nenek tersebut dipenjara sampai 60 hari…..



SUNBER,BY:JURNELIS AGUSTIN IX.2

     

Sabtu, 26 Februari 2011




 



 








MUSIM KEMARAU


LOMBA FOTO YPHL - Hutan kita sedang menangis

Disebuah desa yang bernama Desa Campur Sari didesa itu sedang mengalami musim kemarau yang berkepanjangan semua warga setempat telah mencoba segala cara untuk bisa mendapatkan air mereka pun telah mencoba untuk mendatangkan hujan dengan cara upacara berdoa bersama . Akan tetapi hasilnya tidak memuaskan.
              Semua warga merasa putus asa,mereka tidak tau harus bagaimana lagi untuk bisa bertahan hidup tanpa air.Desa tersebut sudah sangat kekeringan,sehingga didesa tersebut makhluk makhul hidup seperti hewan tumbuhan dan lainnya sudah banyak yang mati karena kekurangan air
              Karena sangat putus asa,ada seorang pemuda yang nekat untuk mencari solusi,pada suatu hari dia pergi ke sebuah hutan yang dekat dengan sebuah danau yang telah kekeringan,pada saat itu ia melihat sebuah bambu runcing tertancap ditengah tengah danau tersebut,secara tibah tiba muncul cahaya yang berwujud kakek tua,kakek itu berpesan pada sipemuda.Supaya sipemuda mencabut bambu tersebut.Dengan gegas dia pun malakukan apa yang dikatakan kakek tadi.Dengan tiba tiba terpancarlah air dari tancapan bambu tersebut .Akhirnya Desa tersebut tidak kekeringan lagi.

SELESAI




SUMBER,BY:JURNELIS AGUSTIN IX.2

Sejarah Gereja

Saturday, August 14, 2010, 03:12 - Sejarah Posted by Administrator
ROMO VOOGEL SJ

Dalam sejarah misi Katolik di Jawa, sejak tahun 1865 tercatat dua orang anak bernama Yoseph dan Sanisa dipermandikan di Magelang. Namun jangan dibayangkan kalau permandian itu dilakukan di sebuah gereja yang megah seperti gereja Ignatius sekarang ini. Sebab, baru pada tahun 1890 tanah yang kemudian menjadi komplek gereja ini dibeli oleh Romo F.VOOGEL, SJ. Kebetulan di atas tanah itu sudah ada suatu bangunan yang untuk sementara dijadikan tempat peribadatan.

Pembangunan gerejanya sendiri baru tercatat dilakukan pada tanggal 31 Juli 1899. Setahun kemudian, pada 22 Agustus 1890, sudah dapat digunakan untuk mempersembahkan misa kudus. Sedangkan pemberkatan gedung secara meriah pada 30 September 1900, dalam misa konselebrasi yang dipimpin Romo Mgr.LUYPEN,SJ dari Batavia, denagn didampingi oleh Romo MUTZAER SJ dari Cirebon, Romo ASSELBERGS,SJ dari Jogya, Romo FISHER dan ROMO HEUVEL dari Magelang. Sedangkan Romo F. VOOGEL, SJ justru tidak bisa hadir, karena sakit dan harus kembali ke Belanda.

Selain itu juga hadir Residen Kedu, petinggi militer Belanda di antaranya Kolonel Van der DUSSEN, tokoh-tokoh masyarakat Cina, dan tokoh-tokoh pribumi lainnya. Sedemikian meriahnya untuk ukuran saat itu, sehingga pemberkatan itu memancing kekaguman masyarakat Magelang tidak terbatas pada umat Katholik saja.

Saat bersejarah terjadi pada 27 Juni 1913, ketika seorang anak Jawa bernama Soewini (14) dipermandikan dengan nama Margaretha. Kemudian menyusul Maria Moerjati, dan selanjutnya disusul lagi oleh 12 siswa HIS (kini SDK Pendowo). salah satunya bapak Sangkrip dari Juritan/ Wilayah Paulus. Bertambahnya masyarakat Jawa memeluk agama Katholik ini merupakan buah kerja keras para misionaris yang namanya pantas ditorehkan dengan tinta emas, di antaranya Romo VAN LITH, SJ dan Romo J. HOVENAARS, SJ.

Perkembangan yang menggembirakan itu memunculkan pemikiran untuk memperluas gereja. Pada tanggal 15 Agustus 1926, perluasan dimulai dengan menambah dua sayap di kanan kiri induk bangunan, masing-masing selebar 3,5 meter. Keluarga ORIE yang kala itu tinggal di Belanda, menyumbang permadani untuk memperindah tampilan gereja.

Mulai tahun 1933, setiap hari minggu seusai misa siang, ada khotbah dan pelajaran agama yang disampaikan dalam bahasa Jawa oleh para Katekis. Sebagian besar para Katekis itu adalah siswa - siswa Perguruan Muntilan, hasil didikan Romo VAN LITH, SJ.



BENTURAN-BENTURAN PADA MASA REVOLUSI FISIK.


Perang Asia Timur Raya yang disulut oleh Jepang berdampak pilu bagi kehidupan Gereja, khususnya di Magelang. Pastur-pastur berkebangsaan Belanda banyak yang ditangkap dan dijebloskan ke dalam kamp interniran. Penggunaan bahasa Belanda dilarang. Kehidupan gereja semakin dirundung sendu dengan meninggalnya Rama SONDAAL SJ.

Walaupun Jepang tidak lama berkuasa di Indonesia, dan Republik Indonesia yang merdeka pada 1945 diakui kedaulatannya, namun nasib baik belum berpihak kepada Gereja. Pada 30 Oktober 1945, tentara Gurkha datang dan menduduki gedung Susteran Fransiskan, dan digunakan sebagai markas mereka. Keesokkan harinya, 1 Nopember 1945, sebuah drama berdarah berbau fitnah menimpa seluruh keluarga Pasturan Magelang. Lima orang Romo, dua Frater, dua Bruder, dan seorang koster diculik oleh segerombolan orang yang memancing di air keruh. Sepuluh orang ini dibawa dan dibunuh di kuburan Giriloyo Magelang. Tiga tahun kemudian peristiwa pembunuhan kembali terjadi. Romo SANDJAJA, Pr , yang saat itu dipercaya menggembala umat di Magelang, bersama Romo H. BOUWENS, SJ. diculik dan dibunuh di desa Patosan, Sedan, Muntilan.


LANGKAH MENUJU HARI CERAH

Warna kehidupan umat Katolik dalam berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat sekitar juga menunjukkan perkembangan yang baik. Khusus di Magelang, hal ini tak lepas dari upaya gigih Romo TH HARDJOWASITO, Pr. dan Romo VAN HEUSDEN, SJ, yang berhasil menjalin hubungan yang baik antara gereja dengan masyarakat. Saat itu masyarakat Kampung Kauman dan sekitarnya, tak seorang pun yang tidak mengenal kedua Romo ini. Mereka menganggap dan merasa Gereja Ignatius Magelang merupakan salah satu bagian kehidupan mereka.

Nuansa keterbukaan dan keakraban ini semakin mekar berkembang setelah era Konsili Vatikan II. Justru ketika suasana panas melanda kehidupan masyarakat Indonesia menjelang dan setelah peristiwa Pengkhianatan G-30-S/PKI meletus (1965), rasa persatuan umat Katolik dengan orang-orang Kampung Kauman semakin mengkristal. Dalam suasana kehidupan yang diwarnai saling curiga terhadap pihak-pihak yang tak sealiran, umat Islam dan Katolik, yang terwakili oleh Pemuda Kauman dan Angkatan Muda Katolik Magelang, lebih mengencangkan hubungan dengan baik. Demi menjaga keamanan, gedung AMKRI Magelang dijadikan "posko" bersama. Dalam suasana yang semakin kondusif, umat Katolik Magelang bersama hirarki mulai memikirkan sarana peribadatan agar semakin memadai, salah satunya adalah renovasi gedung Gereja. Pada tanggal 1 Agustus 1962, dimulailah renovasi gereja dengan perencana dan pelaksananya dari kota Semarang.

Gedung yang semula bergaya Gothik dirombak total menjadi gaya yang sama sekali baru. Beberapa dari bagian gedung lama masih difungsikan sampai sekarang, di antaranya : jendela-jendela mozaik, tangga melingkar untuk naik ke balkon, dan lonceng gereja. Dana pembangunan diperoleh dari Keuskupan Agung Semarang, dari para donatur dan partisipasi umat melalui kolekte, dan juga uang saku pribadi Romo VAN HEUSDEN, SJ. Pembangunan renovasi gereja selesai dalam waktu sekitar tiga tahun.


KEMBANG MEKAR DI TANGAN TUHAN

Renovasi gereja sejalan dengan munculnya keinginan dari banyak orang yang menyatakan diri ingin dibaptis. Menyikapi hal ini, diadakan kursus katekis untuk mempersiapkan guru-guru agama dan karya pewartaan lainnya. Demikian pula pelayanan dalam pendidikan formal dengan mendirikan SDK Prontakan ( kini sudah tidak ada lagi ), serta sekolah-sekolah yang dikelola oleh suster-suster Tarekat Santa Perawan Maria di Dekil Magelang Utara.

Upaya ini semakin menambah jumlah umat yang untuk sementara berkembang secara kuantitatif. Perlu pemikiran untuk lebih memberi warna kualitatif lewat penggembalaan yang lebih baik. Pemikiran ini membuahkan keputusan untuk memecah Paroki St. Ignatius menjadi dua wilayah besar. Ini terjadi pada 1 Oktober 1971, dimana umat di wilayah Kecamatan Magelang Utara mandiri sebagai paroki dengan nama Paroki Santa Maria Fatima. Romo A. MARTADIHARDJA, SJ, yang saat itu menjadi pastur Paroki St. Ignatius Magelang, sangat berperan dalam upaya pemekaran ini.

Kembang mekar selanjutnya juga terjadi di Paroki St. Ignatius sendiri, yang sampai dengan tahun 1983 dibagi menjadi tujuh wilayah penggembalaan : Magelang, Panjang, Rejowinangun, Tidar, Jurangombo, Kemirirejo, dan Cacaban. Semakin kecil dan sempitnya wilayah pastoral ini bukannya berarti juga memperkecil nyali dan mempersempit pola pandang umat dalam pengembangan iman. Justru semakin banyak umat yang tersapa lewat pelayanan dalam segala aspek. Demikian pula semakin banyak tumbuh benih-benih unggul yang sebetulnya berpotensi, namun belum sempat unjuk diri dalam partisipasi menggereja.

Upaya pemekaran ini semakin menyeruak seiring pemekaran wilayah pemerintahan dengan munculnya kelurahan-kelurahan baru. Kini Paroki St. Ignatius Magelang terbagi menjadi 13 wilayah penggembalaan. Penggembalaan semakin diefektifkan dengan membagi 13 Wilayah dalam 36 Lingkungan. Pembagian tersebut di luar stasi-stasi yang ada di lereng Gunung Sumbing, yang terdiri dari Dampit, Kajoran dan Kaliangkrik.


E. Yusuf Kusuma ( dari berbagai sumber )


KARISMATIK KATOLIK ST IGNATIUS MAGELANG 

Saturday, August 14, 2010, 03:10 - Profile Kelompok Kategorial Posted by Administrator
Kelompok Karismatik paroki St. Ignatius Magelang berdiri pada bulan Juli 1983 yang diprakarsai oleh almarhum bapak Ong Liang Siang dengan bimbingan romo Setiawan Gani, SJ. dan direstui oleh romo FX. Wiyono, Pr., yang saat itu sebagai romo paroki. Pertemuan – pertemuan dalam Kelompok Karismatik ini diadakan setiap hari Kamis minggu ke 2 dan ke 4 yang dimulai jam 16.00 dengan tempat berpindah – pindah. Dua bulan kemudian, tepatnya 12 September 1983 di paroki St. Ignatius Magelang mulai berdiri Persekutuan Doa Karismatik Katolik ( PDKK ) yang diprakarsai oleh almarhumah ibu Erna bersama teman – teman.

Awal tahun 1984 PDKK mulai diadakan di aula SMKK ( kini SMK ) Pius X Magelang pada setiap hari Senin sore dengan bimbingan Bruder Wiryo, SJ dan tim dari PD. Elisabeth Muntilan. Kemudian pada bulan Agustus 1984 berubah nama menjadi Persekutuan Doa Karismatik St. Agustinus yang dikoordinir oleh Almarhum bapak Ong Liang Siang.
Pada tanggal 13 Februari 1998 berdiri Persekutuan Doa Karismatik Katolik Santa Katarina yang diprakarsai oleh bapak Aedy Suyanto dan direstui oleh romo J. Sukardi,Pr yang ketika itu sebagai romo Paroki St. Ignatius Magelang. Kemudian pada awal tahun 2000, PD. Santa Katarina bergabung dengan PD. St. Ignatius.

Empat tahun kemudian PD. Ignatius dan PD. Agustinus mengadakan pertemuan bersama dan sepakat bergabung menjadi satu dengan nama PD. Agustinus dan Ignatius, dan pada kesempatan itu sekaligus dibentuk Badan Pelayanan Karismatik Katolik Paroki St. Ignatius Magelang.

Dengan bergabungnya dua PD Karismatik ini, maka sebagai Koordinator Badan Pelayanan Pembaharuan Karismatik Katolik Paroki St. Ignatius Magelang adalah bapak S. Pranawa Kasudarman dan koordinator Persekutuan Doa Karismatik Katolik Paroki St. Ignatius Magelang adalah bapak St. Aedy Suyanto.